Rabu, 23 Maret 2011

Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Assessment

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi sebagian besar pendidik, istilah pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen adalah istilah yang sering digunakan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Menentukan hasil pembelajaran diupayakan untuk berlaku objektif, adil, dan menyeluruh, Oleh karena itu penggunaan alat ukur yang handal dan terpercaya mutlak untuk dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat.

Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi, dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Semuanya itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik masing-masing berupaya mensukseskan tugas utama.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ada pada penulisan makalah ini adalah:

1. Apa pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen .?

2. Apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi .?

3. Apa perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran .?

4. Apa persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi .?

C. TujuanPenulisan

Dari rumusan masalah tersebut, di dapat tujuan penulisan yaitu :

1. Untuk mengetahui pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen

2. Mengetahui apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi

3. Untuk mengetahui perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran

4. Mengetahui persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Asesmen

Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah yang sangat akrab dengan han evaluasi. Hal tersebut disebabkan karena adanya tes prestasi belajar seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil belajar. Dengan demikian perlu adanya upaya untuk memperkenalkan tentang pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen.

1. Konsep Pengukuran

Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto, bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

2. Konsep Penilaian

Pengertian penilaian ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Penilaian pada hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

3. Konsep Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.

4. Konsep Asesmen

Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh stiggins (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “The process of collengting data which shows the development of learning”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakn hal penting yang dinilai dalam asesmen, factor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.

Gabel (1993:388-390) mengkategorikan asesmen kedalam dua kelompok besar, asesmen tradisional dan asesmen alternative. Asesmen yang tergolong tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong kedalam asesmen alternative (non-tes) adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar Cek, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assessment), pertofolio, observasi, diskusi dan interviu (wawancara).

Wiggins (1984) menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham (1995) menyatakn bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Resnick (1985) menyatakan bahwa pada hakikatnya asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al. (1994) menyatakan bahwa dalam mengungkap konsep yang telah dicapai , akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.

B. Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Prinsip Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi, dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita harus mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum ataupun khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip evaluasi, agar evaluasi hasil belajar yang akan kita laksanakan bisa berjalan dengan baik dan benar

1. Tujuan Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:

· Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.

· mengetahui tingkat keberhasilan PBM

· menentukan tindak lanjut hasil penilaian

· memberikan pertanggung jawaban (accountability)

2. Fungsi Evaluasi

Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan fungsi-fungsi dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

· Remedial

· Umpan balik

· Memotivasi dan membimbing anak

· Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

· Pengembangan ilmu

3. Manfaat Evaluasi

a. Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :

· Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

· Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

· Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

b. Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan sekolah.

Ø Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran bagi siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Ø Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran Bagi Guru

· mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

· ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

· ketepatan metode yang digunakan

Ø Bagi Sekolah

· membuat program sekolah

· hasil belajar cermin kualitas sekolah

· pemenuhan standar

4. Prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:

· Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. patokan : Kurikulum/silabi.

· Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.

· Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.

· Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

C. Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran

Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.

Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing:

· Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.

· Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.

· Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris.

D. Persamaan dan Perbedaan Asesmen dan Evaluasi

Rustaman (2003) mengungkapkan bahwa asesmen lebih ditekankan pada penialain proses. Sementara itu evaluasi lebih ditekankan pada hasil belajar. Apabila dilihat dari keberpihakannya, menurut Stiggins (1993) asesmen labih berpihak pada kepentingan siswa. Siswa dalam hal ini menggunakan hasil asesmen untuk merefleksikan kekuatan, kelemahan, dan perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi menurut Rustaman (2003) lebih berpihak kepada kepentingan evaluator.

Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara evaluasi dengan asesmen. Evaluasi (evaluation) merupakan penilaian program pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi pendidikan lebih bersifat makro, meluas, dan menyeluruh. Evaluasi program menelaah komponen-komponen yang saling berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan. Sementara itu asesmen merupakan penilaian dalam scope yang lebih sempit (lebih mikro) bila dibandingkan dengan evaluasi. Seperti dikemukakan oleh Kumano (2001) asesmen hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan program pembelajaran.

Harlen (1982) mengungkapkan perbedaan antara asesmen dan evaluasi dalam hal metode. Evaluasi dinyatakan menggunakan kriteria dan metode yang bervariasi. Asesmen dalam hal ini hanya merupakan salah satu dari metode yang dipilih untuk evaluasi tersebut. Selain dari itu, subyek untuk asesmen hanya siswa, sementara itu subyek evaluasi lebih luas dan beragam seperti siswa, guru, materi organisasi, dll.

Yulaelawati (2004) menekankan kembali bahwa scope asesmen hanya mencakup kompetensi lulusan dan perbaikan cara belajar siswa. Jadi hubungannya lebih pada peserta didik. Ruang lingkup evaluasi yang lebih luas ditunjukkan dengan cakupannya yang meliputi isi atau substansi, proses pelaksanaan program pendidikan, kompetensi lulusan, pengadaan dan pemingkatan tenaga kependidikan, manajemen pendidikan, sarana dan prasarana, dan pembiayaan.


BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah yang sangat akrab dengan hal evaluasi, khususnya evaluasi hasil belajar. Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran, sedangkan penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan pada dasarnya evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Dan Assessment biasanya dihubungkan dengan kemampuan seseorang, seperti kecerdasannya, keterampilannya, kecepatanya, ketepatannya, misalnya buku rapor.

Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita harus mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum ataupun khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip evaluasi, serta persamaan dan perbedaannya agar evaluasi hasil belajar yang akan kita laksanakan bisa berjalan dengan baik dan benar. Semuanya itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik masing-masing berupaya mensukseskan tugas utama mereka masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Gabel, D.L. (1993). Handbook of Research on Science Teaching and Learning. New York:Maccmillan Company.

Harlen, W. (1983). Guides to assessment in Edication Science. London:Maccmillan Education.

Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment andPortofolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan:Shizouka University.

Marzano, R.J. et al. (1994). Assessing Student Outcomes: Perfomance Asessment Using the Dimension of Learning Model. Alexandria:Association for Supervison and Curriculum Development.

Popham, W.J. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need it Know. Oxford:Pergamon Press

Resnick, D.P. & Resnick, L.B. (1985). “Standars, Curiiculum, and Performance:A Historical and Comparative Perspektive” Educational Researcher 9, 5-19.

Rustaman, N. (2003). Assessment Pendidikan IPA. Makalah penataran guru-guru NTT di Jurusan Pendidikan Biologi

Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York:Macmillan Colege Publishing Company

Wiggins, G. (1984). “A True Test:Toward More Authentic and Equitable Assessment” Phi Delta Kappan 70, (9) 703-713

Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya Jakarta

http://santriw4n.wordpress.com

http://aderusliana.wordpress.com/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar

Kamis, 23 Desember 2010


Tugas Poster
Tema : Pendidikan
JuduL : PendidikanKu Mahal
OriginaL by : Farri Salsabilla
^_^

Senin, 06 Desember 2010

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia masalah pendidikan memerlukan perhatian yang khusus. Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan nasional. Hal ini ditujukan agar masyarakat Indonesia nantinya siap untuk menghadapi perkembangan dan perubahan secara terus menerus sebagai akumulasi respon terhadap permasalahan yang terjadi selama ini serta pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu teknologi serta seni dan budaya.

Berkaitan dengan hal ini maka dibutuhkan adanya kurikulum. Pemerintah pusat sudah menetapkan standar nasional pendidikan, namun dalam pelaksanaanya perlu diselengarakan dan diadaptasikan dengan kondisi sekolah, masyarakat, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi yang berkembang pesat bersamaan dengan era globalisasi.

B. Rumusan Masalah

Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Pada awalnya komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software-software yang ada. Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran.

C. Tujuan

Melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk Teknologi Informasi dan Komunikasi. Siswa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisi, dan saling tukan informasi secara efisien dan efektif. Secara khusus, tujuan mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah:

1. Menyadarkan sisiwa akan potensi perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang terus beubah sehingga siswa dapat termotivasi untuk mengevaluasi dan mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai dasar untuk belajar sepanjang hayat

2. Memotivasi kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga siswa bisa melaksanakan dan menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dan lebih percaya diri

3. Mengembangkan kompetensi siswa dalam menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mendukung kegiatan belajar, bekerja dan berbagai aktifitas dalam kehidupan sehari-hari

4. Mengembangkan kemampuan belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal, menarik, dan mendorong siswa terampil dalam berkomunikasi, terampil mengorganisasi informasi, dan terbiasa bekerjasama.

5. Mengembangkan kemampuan belajar mandiri, berinisiatif, inovatif, kreatif, dan bertanggungjawab dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk pembelajaran, bekerja dan pemecahan masalah sehari-hari

Dengan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi, siswa akan dengan cepat mendapatkan ide dan pengalaman dari berbagai kalangan. Penambahan kemampuan siswa karena penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri, sehingga siswa dapat memutuskan dan mempertimbangkan sendiri kapan dan dimana penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal, termasuk apa implikasinya saat ini dan dimasa yang akan datang.

D. Kajian Teori Pendukung

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, menipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke yang lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu padanan yng tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer atau pemindahan informasi antar media.

Dengan begitu Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat memotivasi kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga siswa bisa melaksanakan dan menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dan lebih percaya diri. Mengembangkan kemampuan belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal, menarik, dan mendorong siswa terampil dalam berkomunikasi, terampil mengorganisir informasi, dan terbiasa bekerjasama.

E. Manfaat

Teknologi informasi dan Komunikasi bukan merupakan teknologi yang berdiri sendiri, tetapi merupakann kombinasi dari hardware dan software. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan Teknologi informasi dan Komunikasi sebagai media pembelajaran yaitu hardware dan software yang tersedia dan jenis metode pembelajaran yang akan digunakan. Beberapa pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran diantaranya :

1. Presentasi

Presentasi merupakan cara yang sudah lama digunakan, dengan mengunakan OHP atau chart. Peralatan yang digunakan sekarang biasanya menggunakan sebuah computer atau laptop dan LCD proyektor. Ada beberapa keuntungan jika kita memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan film, sehingga tampilannya menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa untuk menangkap materi yang kita sampaikan. Software yang paling banyak digunakan untuk presentasi adalah Microsoft Powerpoint. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan presentasi, diantaranya :

a. Jangan terlalu banyak tulisan yang harus ditampilkan.

b. Tulisan jangan terlalu kecil karena harus dilihat oleh banyak siswa.

c. Perbanyak memasukkan gambar dan animasi

d. Usahakan bentuk presentasi yang interaktif.

2. Demonstrasi

Demonstrasi biasanya digunakan untuk menampilkan suatu kegiatan di depan kelas, misalnya eksperimen. Kita bisa membuat suatu film cara-cara melakukan suatu kegiatan, misalnya cara melakukan pengukuran dengan micrometer yang benar atau mengambil sebagian kegiatan yang penting. Sehingga dengan cara ini siswa bisa kita arahkan untuk melakukan kegiatan yang benar atau mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.

Cara lain adalah dengan memanfaatkan media internet, kita bisa menampilkan aminasi yang berhubungan dengan materi yang akan kita ajarkan.

Senin, 29 November 2010

Metode Pembelajaran IPA SMP Kelas VII Tentang Ciri-Ciri Mahluk Hidup

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Dalam pendidikan, penentuan strategi dan juga metode pembelajaran perlu diambil jauh-jauh sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Berbagai macam metode pembelajaran dapat dipergunakan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, khususnya mata pelajaran IPA. Penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pengajaran yang baik menjadi suatu keharusan bagi setiap guru. Dalam suatu pembelajaran pastilah diperlukan suatu metode. Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar IPA di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Berdasarkan latar belakang tersebut maka saya mencoba menyusun sebuah makalah dengan judul “Metode Pembelajaran IPA SMP Kelas VII Tentang Ciri-Ciri Mahluk Hidup” dengan harapan agar mahasiswa didik lebih mengerti mengenai metode-metode yang digunakan dalam pembelajarannya.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan yang diharapakan dapat tercapai dalam penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu memahami tentang berbagai metode pembelajaran untuk proses belajar mengajar. Dengan mengetahui metode pembelajaran yang digunakan, maka diharapkan nantinya mahasiswa kependidikan mampu menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pengajaran yang baik untuk proses belajar mengajar.

C. Manfaat

Dengan adanya makalah ini, mahasiswa mampu mengerti dan memahami tentang metode-metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar pada pelajaran IPA Kelas VII tentang ciri-ciri mahluk hidup.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Makhluk Hidup

Bunga mawar, kelinci, burung, dan manusia, semuanya bergerak, memerlukan makanan, bernapas, dan berkembang biak. Hal tersebut terjadi karena mereka adalah makhluk hidup. Mobil tidak bisa bergerak jika tidak diberi bensin dan dikemudikan. Demikian juga dengan sepeda dan becak, jika tidak dikendarai manusia tidak akan bergerak. Benda-benda itu tidak bernapas, tidak memerlukan makanan, dan tidak bertambah banyak. Karena mereka adalah makhluk tak hidup. Jadi, makhluk hidup adalah makhluk yang memiliki ciri-ciri kehidupan seperti bernapas, bergerak, dan berkembang biak.

B. Ciri-Ciri Makhluk Hidup

Aktivitas yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup prosesnya tidak dapat diamati secara langsung, tetapi berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Makhluk hidup memiliki beberapa ciri, yaitu bernapas, bergerak, makan, tumbuh, peka terhadap rangsangan, bereproduksi, beradaptasi, memerlukan suhu tertentu, dan mengeluarkan zat sisa (sekresi)

1. Bernapas

Semua makhluk hidup melakukan proses pernapasan. Bernapas adalah proses mengambil udara (O2) dari luar dan mengeluarkan udara (CO2) dari dalam tubuh. Oksigen (O2) sangat diperlukan makhluk hidup untuk pembakaran makanan dalam tubuh dan menghasilkan energi yang diperlukan tubuh atau disebut juga oksidasi tubuh.

2. Bergerak

Bergerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Gerak pada manusia dan hewan jelas tampak terlihat. Kita dapat berjalan, berlari, dan menggerakkan tangan. Begitu juga dengan hewan dapat berlari, terbang, dan lain sebagainya. Tumbuhan juga melakukan gerakan, tapi gerakan ini tidak mudah dilihat. Contoh gerakan pada tumbuhan adalah menutupnya daun putri malu bila disentuh, bunga matahari yang selalu menghadap matahari. Gerakan pada tumbuhan disebabkan karena ada rangsangan dari luar.

3. Makan

Seluruh makhluk hidup membutuhkan makanan. Makanan yang dimakan harus mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh. Karbohidrat sangat diperlukan tubuh untuk menghasilkan energi. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan bagi tubuh. Protein berfungsi untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Vitamin dan mineral diperlukan tubuh kita untuk mengatur proses kegiatan tubuh.

4. Iritabilitas ( peka terhadap rangsangan )

Salah satu ciri makhluk hidup adalah respons terhadap rangsangan disebut iritabilitas. Hewan memiliki sistem saraf dalam menanggapi adanya rangsangan, sedangkan tumbuhan tidak. Rangsangan dapat disebabkan oleh faktor luar tubuh. Gerak pada tumbuhan terjadi karena adanya rangsangan zat kimia, gaya gravitasi bumi, cahaya, air, dan sentuhan.

5. Tumbuh

Makhluk hidup mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan merupakan pertambahan sel-sel tubuh, sehingga ukuran tubuh bertambah dan tidak bisa mengecil kembali. Hewan dan tumbuhan juga mengalami pertumbuhan seperti manusia, yaitu ukuran tubuhnya makin besar. Pertumbuhan ini dapat diukur.

6. Reproduksi

Semua makhluk hidup berkembang biak, hal ini merupakan upaya makhluk hidup untuk memperbanyak diri atau menghasilkan individu baru. Perkembangan makhluk hidup bertujuan untuk menjaga kelestarian jenisnya supaya tidak punah, Cara makhluk hidup untuk berkembang biak dibedakan menjadi dua, yaitu :

· Generatif , yaitu peristiwa terbentuknya individu baru yang didahului oleh pembuahan ( fertilisasi ) , pembuahan berarti meleburnya sel kelamin jantan dengan betina untuk membentuk zigot , contoh : cacing, rayap, katak, lebah dll

· Vegetatif yaitu cara berkembang biak tanpa perkawinan, jadi tidakmeliatkan sel gamet atau sel kelami, contoh peremangan vegetatif : tunas, membelah diri, spora, umbi geragih

7. Adaptasi

Untuk dapat bertahan hidup di lingkungannya, makhluk hidup harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, Tempat hidup bagi makhluk hidup dapat melakukan aktifitasnya disebut habitat. Apabila makhluk hidup tersebut tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka akan mati atau bisa harus berpindah ke lingkungan yang baru.

8. Memerlukan suhu tertentu

Semua makhuk hidup dapat bertahan pada suhu tertentu, ikan dapat hidup pada air yang bersuhu antara 5 derajat celcius sampai dengan 30 derajat. Untuk jenis bakteri dapat sampai suhu 80 derajat, sedangkan tumbuhan dapat hidup baik antara suhu 0 – 43 derajat celcius.

9. Mengeluarkan zat sisa ( sekresi )

Zat sisa dari proses produksi harus dikeluarkan, jika tidak akan menimbulkan racun di dalam tubuh. Zat sisa yang dikeluarkan bisa berupa cairan, gas ataupun zat padat. Alat pengeluaran zat sisa pada hewan atau manusia , yaitu :

· Paru paru mengeluarkan CO2

· Kulit mengeluarkan keringat

· Ginjal mengeluarkan urine

Materi ini merupakan materi yang tidak sekedar membutuhkan penjelasan dari guru saja, tetapi dalam menyampaikan materi ini diperlukan beberapa metode pembelajaran yang digunakan agar memudahkan guru dalam penyampaian materi agar dapat dengan mudah dipahami oleh para peserta didik. Metode yang sesuai digunakan untuk penyampaian materi ini adalah metode ceramah, metode pemberian tugas, metode eksperimen dan metode diskusi. Karena selain memerlukan penjelasan, dalam penyampaian materi ini diperlukan penugasan, praktek atau eksperimen supaya peserta didik bisa lebih paham tentang materi ini.

A. Metode Ceramah

Merupakan metode yang disampaikan dengan cara ceramah ( konvensional ) yaitu, suatu metode pembelajaran tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan peserta didik dalam proses belajar dan pembelajaran. Metode pembelajaran ini ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan dari guru dengan penyampaian informasi dan pengetahuan secara lisan. Metode ini juga merupakan metode yang paling ekonomis dalam penyampaian informasi dan paling efektif dalam menghadapi kelangkaan literature. Dengan penggunaan metode ini, maka guru dapat menyampaikan materi dengan jelas. Mungkin guru dapat menyampaikan materinya terlebih dahulu, lalu memberikan sedikit pertanyaan atau tugas kepada peserta didiknya.

B. Metode Pemberian Tugas

Metode Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan peserta didik untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap peserta didik atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda. Jadi setelah dijelaskan, peserta didik diberi tugas oleh guru. Untuk materi ini, biasanya dugunakan tugas kelompok, karena dalam materi ini juga diperlukan percobaan atau eksperimen.

C. Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana peserta didik melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya. Dengan metode ini, dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan suatu proses atau percobaan. Dalam materi ini, biasanya dilakukan percobaan pada tumbuhan tentang pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

D. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan peserta didik bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah. Jika metode ini dikelola dengan baik, antusiasme peserta didik untuk terlibat dalam forum ini sangat tinggi. Jadi setelah dilakukan percobaan atau eksperimen, maka kelompok tersebut harus menuliskan hasil percobaannya, lalu bisa didiskusikan kepada anggota kelompoknya yang lain agar hasilnya bisa lebih jelas dan memuaskan. Dengan begitu memungkinkan semua kelompok untuk bisa saling berdiskusi dan mempresentasikan hasil percobaannya kepada kelompok lain untuk ditanggapi.

BAB III

PENUTUP

Simpulan

Bahwa dalam suatu pembelajaran tidak hanya diperlukan satu metode saja, namun diperlukan beberapa metode untuk menunjang keberhasilan suatu pembelajaran tersebut. Berbagai macam metode pembelajaran dapat dipergunakan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pengajaran yang baik menjadi suatu keharusan bagi setiap guru. Dengan metode pembelajarn juga dapat membantu guru agar memudahkan dalam penyampaian materi agar dapat dengan mudah dipahami oleh para peserta didik. Jadi peserta didik tidak bosan dan tidak pasif jika hanya menggunakan satu metode saja. Dengan berbagai metode yang dugunakan juga memungkinkan untuk para peserta didik agar bisa berinovasi bahkan bisa membuat terobosan-terobosan baru dari hasil penemuannya

DAFTAR PUSTAKA

· http://www.membuatblog.web.id/2010/02/ciri-ciri-makhluk-hidup.

· http://zaifbio.wordpress.com/2010/02/11/ciri-ciri-makhluk-hidup

· "WordPress.com"