Kamis, 28 April 2011

Perpustakaan Sekolah

A. Sejarah Perkembangan Perpustakaan

Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari sejarah manusia, karena perpustakaan merupakan produk manusia. Dalam kehidupan mengembara dan bertani, manusia memperoleh pengalaman bahwa bila dia memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta benda lainnya, ternyata manusia dapat menyampaikan berita ke manusia lainnya. Pesan ini dipahatkan pada batu atau pohon atau benda lainnya, manusia mulai berkomunikasi dengan kelompok lain melalui bahasa tulisan.

Bila kegiatan memberi tanda tersebut berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya maupun dari suku ke suku lainnya maka banyak dugaan perpustakaan dalam bentuknya yang sangat sederhana sudah dikenal ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan ke berbagai benda. Benda itu dapat diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya ataupun dapat dibaca suku lain. Walaupun demikian, kita tidak pernah mengtahui kapan perpustakaan pertama kali berdiri. Di bawah ini merupakan keterangan-keterangan mengenai perpustakaan tua di dunia.

1. Sumeria dan Babylonia

Perpustakaan sudah dikenal sejak 3000 tahun yang lalu. Penggalian di bekas kerajaan Sumeria menunjukkan bahwa bangsa Sumeria sekitar 3000 tahun sebelum Masehi telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dalam bentuk lempeng tanah liat (clay tablets). Tulisan yang dipergunakan masih berupa gambar (pictograph), kemudian diterjemahkan ke dalam aksara Sumeria.

Semasa pemerintahan Raja Ashurbanipal dan Assyria (sekitar tahun 668-626 sebelum Masehi) didirikan Perpustakaan kerajaan di ibukota Niniveh, berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dikumpulkan dari segala penjuru kerajaan. Untuk mencatat koleksi digunakan system subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. Banyak dugaan bawa Perpustakaan ini terbuka bagi kawula kerajaan.

2. Mesir

Pada masa yang hampir bersamaan, peradaban Mesir Kuno pun berkembang. Teks tertulis paling awal yang ada di Perpustakaan Mesir berasal sekitar tahun 40000 SM, namun gaya tulisannya berbeda dengan tulisan sumeria. Orang Mesir menggunakan tulisan yang disebut hieroglyph. Tujuan hieroglyph ialah memahatkan pesan terakhir di monumen karena tulisan dimaksudkan untuk mengagungkan raja sedangkan tulisan yang ada di tembok dan monument dimaksudkan untuk memberi kesan kepada dunia. Perpustakaan Mesir bertambah maju berkat penemuan penggunaan rumput papyrus sekitar tahun1200 SM.

Permukaa lembaran papyrus dapat digunakan sebaga bahan tulis, sedangkan alat tulisnya berupa pena sapu dan tinta. Umumnya tulisan Hierolgyph hanya dipahami oleh pendeta karena itu papyrus banyak ditemukan di kuil-kuil berisi pengumuman resmi, tulisan keagamaan, filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pengembangan perpustakaan Mesir terjadi semasa raja Khufu, Khafre, dan Ramses II sekitar tahun 1250 SM. Pada saat raja Ramses II memerintah perpustakaan memiliki koleksi sekitar 20.000 buku.

3. Arab

Agama Islam muncul pada abad ke-7. Islam kemudian mulai menyebar ke daerah sekitar Arab. Dengan cepat pasukan Islam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, serta menyeberang ke Spanyol. Orang Arab berhasil dalam bidang Perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan matematika ke Eropa.

Dalam Abad ke-8 dan ke-9, tatkala Konstantinopel mengalami kemunduran dalam hal karya sekuler maka Bagdad berkembang sebagai pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuwan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab; kadang-kadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic. Puncak kejayaan terjemahan ini terjadi semasa pemerintahan Abbasid Al-Ma’mun, yang mendirikan rumah kebijakan pada tahun 810, sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsur perpustakaan, akademi, dan biro terjemahan. Dalam penaklukan ke timur, orang Arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina.

Pada abad ke-8 di Bagdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hampir lima abad dikuasai orang Arab. Karena harganya murah, banyak, serta mudah ditulis maka produksi buku melonjak dan Perpustakaan pun berkembang.

B. Definisi Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan berasal dari kata ’’Pustaka” menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan WJ. Purwadarminta, kata pustaka artinya buku, sedangkan perpustakaan artinya kumpulan buku (bacaan dsb).Perpustakaan dalam bahasa inggris disebut ”Library” berasal dari bahasa romawiyaitu” Librarium” yang terdiri dari kata Liber artinya buku sedangkan armarium.artinya Lemari. Jadi dilihat dari kata asalnya, berarti lemari yang di dalamnya terdapat kumpulan buku- buku.

Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun, perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademika sekolah yang bersangkutan.

C. Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Sekolah

Sebagai perpustakaan yang berada di sekolah, perpustakaan sekolah memiliki tujuan dan fungsi sebagai berikut :

1. Tujuan Perpustakaan sekolah

Menurut Pawit M. Yusuf dan Yaya Suhendar (2007 : 3-4), tujuan perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:

· Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca para siswa.

· Membantu menulis kreatif bagi para siswa dengan bimbingan guru dan pustakawan.

· Menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para siswa.

· Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan pelaksanaan kurikulum.

· Mendorong, menggairahkan, memelihara, dan memberi semangat membaca dan semangat belajar bagi para siswa.

· Memperluas, memperdalam,dan memperkaya pengalaman belajar para siswa dengan membaca buku dan koleksi lain yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disediakan oleh perpustakaan.

· Memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca, khususnya buku-buku dan sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan, seperti fiksi, cerpen, dan lainnya.

2. Fungsi Perpustakaan Sekolah

Menurut Pawit M. Yusuf dan Yaya Suhendar (2007 : 4-6), perpustakaan sekolah mempunyai empat fungsi umum, yaitu edukatif, informatif, kreasi, dan riset atau penelitian sederhana.

· Fungsi edukatif

Maksudnya secara keseluruhan segala fasilitas dan sarana yang ada pada perpustakaan sekolah, terutama koleksi yang dikelolanya banyak membantu para siswa sekolah untuk belajar dan memperoleh kemampuan dasar dalam mentransfer konsep-konsep pengetahuan, sehingga di kemudian hari para siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya lebih lanjut.

· Fungsi informative

Ini berkaitan dengan mengupayakan penyediaan koleksi perpustakaan yang bersifat ”memberi tahu” akan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan para siswa dan guru. Melalui membaca berbagai media bahan bacaan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah, para siswa dan guru akan banyak tahu tentang segala hal yang terjadi di dunia ini.

· Fungsi rekreasi

Dimaksudkan bahwa dengan disediakannya koleksi yang bersifat ringan seperti surat kabar, majalah umum, buku-buku fiksi, dan sebagainya diha-rapkan dapat menghibur pembacanya di saat yang memungkinkan.

· Fungsi riset atau penelitian

Maksudnya koleksi perpustakaan sekolah bisa dijadikan bahan untuk membantu dilakukannya kegiatan penelitian sederhana. Segala jenis informasi tentang pendidikan setingkat sekolah yang bersangkutan sebaiknya disimpan di perpustakaan sekolah, sehingga jika ada orang yang ingin mengetahuai tentang informasi tertentu tinggal membacanya di perpustakaan.

D. Koleksi Perpustakaan Sekolah

Pada prinsipnya pengembangan koleksi suatu perpustakaan yang baik memerlukan proses yang panjang dan berkesinambungan dari tahun ketahun berikutnya, sepanjang perpustakaan yang bersangkutan melakukan kegiatan dan dana pengembangannya tersedia. Ini membuat pustakawan dan semua pihak yang terkait bekerja keras untuk merealisasikannya. Koleksi yang cukup dan imbang bagi kebutuhan pemakai perpustakaan tidak bisa diciptakan dalam waktu sekejap, tapi harus didukung oleh kegiatan perencanaan yang teratur dan terus menerus.

Sebuah perpustakaan sudah seharusnya mempunyai koleksi yang bisa dimanfaatkan oleh para pemustaka. Hal ini tentu saja sangat erat kaitannya dengan penyebaran informasi yang terkandung di dalam setiap bahan pustaka.

Koleksi sumber daya buku yang sesuai hendaknya menyediakan sepuluh buku per murid. Sekolah terkecil hendaknya memiliki paling sedikit 2.500 judul materi perpustakaan yang relevan dan mutakhir agar stok buku berimbang untuk semua umur, kemampuan dan latar belakang. Paling sedikit 60% koleksi perpustakaan terdiri dari buku nonfiksi yang berkaitan dengan kurikulum.

Di samping itu, perpustakaan sekolah hendaknya memiliki koleksi untuk keperluan hiburan seperti novel populer, musik, dolanan, komputer, kaset video, disk laser video, majalah dan poster. Materi semacam itu dipilih bekerja sama dengan murid agar koleksiperpustakaan mencerminkan minat dan budaya mereka, tanpa melintasi batas wajar standar etika. Koleksi dalam perpustakaan sekolah harus mampu menyajikan alternatif sumber ilmu yang dibutuhkan yang selama ini sulit diakses siswa.

E. Sistem Yang Dipakai Dalam Perpustakaan Sekolah

1. Layanan Sirkulasi

Salah satu kegiatan utama perpustakaan adalah peminjaman buku dan materi lainnya. Kegiatan peminjaman ini sering dikenal dengan nama sirkulasi artinya perputaran buku melalui peminjaman dan pengembalian buku. Pada bagian sirkulasi, khususnya pada meja sirkulasi, sering kali dianggap sebagai ujung tombak jasa perpustakaan, karena pada bagian inilah pelayanan perpustakaan berhadapan dengan pelanggan/peminjam buku. Dengan demikian, kinerja dari staf sirkulasi sangat berpengaruh terhadap citra perpustakaan. Dalam perpustakaan sekolah memakai system Koleksi sirkulasi. Koleksi sirkulasi merupakan system dengan tingkat peminjaman yang sangat tinggi. Ini berarti jumlah yang harus disediakan juga tidaklah sedikit. Disebut dengan sistem koleksi sirkulasi karena sistem ini tersirkulasi atau mengalami siklus perputaran setiap waktu melalui peminjaman dan pengembalian. Hari ini dipinjam besok dikembalikan atau hari ini dikembalikan besoknya sudah dipinjam lagi. Demikian seterusnya sehingga sebuah buku bisa mengalami sirkulasi peminjaman dan pengembalian dalam kurun waktu tertentu.

2. Layanan Teknis

Pelayanan teknis meliputi kegiatan pembinaan koleksi perpustakaan yaitu: pemilihan, pengadaan buku dan inventarisasi buku. Syarat pemilihan buku :

a. Isi karangan berbobot, bahasa yang baik, cetakan yang jelas. Juga harus ditampung usul dan saran masukan baik dari angket, wawancara dan sebagainya sesuai kebijakan badan induk.

b. Jenis koleksi yang lebih menarik minat baca.

Penambahan jumlah eksemplar (copy) sesuai kebutuhan. Pengadaan Buku dilaksanakan dengan membeli, meminta sumbangan dan mendapat hadiah atau tukar menukar.

Selanjutnya setelah buku-buku tersebut tersedia, maka informaasi tentang buku-buku tersebut dapat dimasukan kedalam buku induk. Selanjutnya buku-buku itu diolah dengan kegiatan klasifikasi dan katalogisasi untuk kemudian diatur di rak perpustakaan. Klasifikasi adalah “ Pengelompokan yang sistematis dari sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain kedalam kelas atau golongan tertentu berdasar ciri-ciri yang sama.

Sebelum kita menempatkan suatu bahan pustaka (buku) pada kelas atau penggolongan yang sesuai, kita perlu mengetahui lebih dahulu subyek apa yang dibahas dalam buku itu, sudut pandang yang dianut oleh penulisnya dan bentuk penyajiannya. Sayangnya hal itu tidak selalu mudah dilaksanakan dalam praktek, sehingga perlu mengetahui dan mempelajari bagaimana cara membaca buku secara teknis. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Judul buku kadang-kadang dengan mudah memberikan petunjuk tentang apa isinya,

2. Daftar isi sebuah buku, apalagi yang cukup terperinci biasanya merupakan petunjuk yang dapat dipercaya tentang subyek buku itu.

3. Apabila dari daftar isi tidak jelas , atau tidak ada daftar isi,bibliografi atau sumber yang dipakai untuk menyusun buku itu dapat memberikan petunjuk yang bermanfaat.

4. Bacalah sepintas lalu Kata pengantar atau Pendahuluan buku itu yang biasanya memberikan informasi tentang sudut pandangan penulis tentang subyeknya,ruang lingkup persoalannya, untuk pembaca yang bagaimana buku itu ditulis dan keterangan lain yang berguna untuk mengklasirnya.

F. Tata Organisasi Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan Sekolah ditinjau dari struktur organisasinya dapat dibagi atas dua kelompok, yaitu Secara makro dan Secara mikro.

Organisasi Perpustakaan Sekolah secara makro menggambarkan kedudukan Perpustakaan Sekolah dalam organisasi sekolah secara keseluruhan.

Sedangkan secara mikro organisasi Perpustakaan Sekolah menggambarkan kedudukan unit unit kerja dalam keseluruhan organisasi Perpustakaan Sekolah.

G. Kondisi Perpustakaan Sekolah

Keberadaan perpustakaan sekolah seharusnya menjadi tempat mencari sumber informasi, menumbuhkan minat baca, membantu menggairahkan semangat belajar, mendorong membiasakan siswa belajar mandiri, dan memberi hiburan yang sehat. Pernyataan ini cukup beralasan karena perpustakaan sekolah berfungsi sebagai sarana edukatif, informatif, riset, dan rekreatif bagi komunitas sekolah. Namun fungsi ini belum berjalan sebagai-mana yang diharapkan karena tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan, sementara sekolah yang mempunyai perpustakaan juga belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan tersebut. Dari pernyataan di atas dapat digaris bawahi bahwa keadaan perpustakaan sekolah masih belum berkembang dan memerlukan penanganan segera.

Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya berbagai permasalahan pada perpustakaan sekolah. Permasalahan ini dapat kita lihat dengan menganalisis dengan SWOC. SWOC merupakan singkatan dari kata Strenghts (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Challenges (tantangan).

1. Strength (kekuatan)

Maksud kekuatan dalam program, serta diakui eksistensi-nya oleh semua pihak (masyarakat).

2. Weaknes (kelemahan)

Maksud kelemahan dalam analisis ini adalah permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan program dan hasilnya. Permasalahan merupakan kelemahan yang dapat berubah menjadi tantangan kelancaran pelaksanaan tugas / program

3. Opportunities (peluang)

Maksud peluang dari analisis ini adalah hal-hal atau faktor-faktor dari luar program yang kalau dicermati dan dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi tumpuan harapan dimasa depan.

4. Challenges (tantangan)

Maksud tantangan dalam analisis ini adalah hal-hal yang harus diatasi, direbut, diperbaiki dan ditingkatkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dalam usaha mencapai tujuan

H. Kelebihan dan Kekurangan Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademika sekolah yang bersangkutan. Layanan yang biasa diberikan perpustakaan sekolah adalah penyediaan bahan bacaan bagi pengunanya, yaitu siswa, guru dan karyawan. Dalam hal tersebut perpustakaan sekolah mempunyai kekurangan dan kelebihan.

1. Kelebihan perpustakaan sekolah

· Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid­murid terhadap membaca.

· Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid­murid.

· Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan membaca.

· Perpustakaan sekolah dapat mempercepat penguasaan teknik membaca.

· Perpustakaan sekolah dapat melatih murid­murid ke arah tanggung jawab.

· Perpustakaan sekolah dapat memperlancar murid­murid dalam menyelesaikan tugas­tugas sekolah.

· Perpustakan sekolah dapat membantu guru­guru menemukan sumber­sumber pengajaran.

· Perpustakaan sekolah dapat membantu murid­murid, guru­guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Kekurangan perpustakaan sekolah

· Kurangnya pustakawan

sebuah perpustakaan mestilah dikelola oleh seorang pustakawan yang benar-benar memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola pepustakaan

· Jumlah bukunya maupun judulnya belumlah memadai

· Sekolah perlu memiliki koleksi-koleksi kaset-kaset cerita, VCD atau DVD tentang ilmu pengetahuan yang sekarang ini tersedia seperti koleksinya National Geography

· Membaca belum merupakan program sekolah yang dirancang secara terintegrasi dengan kurikulum lainnya.

· Kurang adanya kepedulian dan partisipasi dari warga sekolah dan komite sekolah untuk memajukan perpustakaan sekolah

I. Simpulan

Perkembangan perpustakaan tidak lepas dari sejarah manusia, karena perpustakaan merupakan produk manusia. Dalam tujuan dan fungsinya, perpustakaan sebagai sumber informasi di sekolah memiliki peran yang penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala sekolah; yang melayani sivitas akademika sekolah yang bersangkutan. Layanan yang biasa diberikan perpustakaan sekolah adalah penyediaan bahan bacaan bagi pengunanya, yaitu siswa, guru dan karyawan.

Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat memenuhi harapan menjadi tempat mencari sumber informasi, menumbuhkan minat baca, membantu menggairahkan semangat belajar, mendorong membiasakan siswa belajar mandiri, dan memberi hiburan yang sehat. Perpustakaan adalah paru-paru pendidikan atau pengetahuan, karena dengan adanya perpustakanlah siswa dapat mengembangkan keilmuan yang dimilikinya.


Arif, Ikhwan. Konsep dan perencanaan dalam automasi perpustakaan. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada, 2003.

Basuki, Sulistyo. Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Depdiknas. 2007. Permendiknas No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah /Madrasah.

Depdiknas. 2008. Permendiknas No. 25 tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah /Madrasah.

Rabu, 23 Maret 2011

Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Assessment

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi sebagian besar pendidik, istilah pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen adalah istilah yang sering digunakan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Menentukan hasil pembelajaran diupayakan untuk berlaku objektif, adil, dan menyeluruh, Oleh karena itu penggunaan alat ukur yang handal dan terpercaya mutlak untuk dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat.

Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi, dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Semuanya itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik masing-masing berupaya mensukseskan tugas utama.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ada pada penulisan makalah ini adalah:

1. Apa pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen .?

2. Apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi .?

3. Apa perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran .?

4. Apa persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi .?

C. TujuanPenulisan

Dari rumusan masalah tersebut, di dapat tujuan penulisan yaitu :

1. Untuk mengetahui pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen

2. Mengetahui apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi

3. Untuk mengetahui perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran

4. Mengetahui persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Asesmen

Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah yang sangat akrab dengan han evaluasi. Hal tersebut disebabkan karena adanya tes prestasi belajar seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil belajar. Dengan demikian perlu adanya upaya untuk memperkenalkan tentang pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen.

1. Konsep Pengukuran

Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto, bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

2. Konsep Penilaian

Pengertian penilaian ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Penilaian pada hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

3. Konsep Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.

4. Konsep Asesmen

Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh stiggins (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “The process of collengting data which shows the development of learning”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakn hal penting yang dinilai dalam asesmen, factor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.

Gabel (1993:388-390) mengkategorikan asesmen kedalam dua kelompok besar, asesmen tradisional dan asesmen alternative. Asesmen yang tergolong tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong kedalam asesmen alternative (non-tes) adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar Cek, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assessment), pertofolio, observasi, diskusi dan interviu (wawancara).

Wiggins (1984) menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham (1995) menyatakn bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Resnick (1985) menyatakan bahwa pada hakikatnya asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al. (1994) menyatakan bahwa dalam mengungkap konsep yang telah dicapai , akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.

B. Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Prinsip Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi, dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut. Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita harus mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum ataupun khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip evaluasi, agar evaluasi hasil belajar yang akan kita laksanakan bisa berjalan dengan baik dan benar

1. Tujuan Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:

· Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.

· mengetahui tingkat keberhasilan PBM

· menentukan tindak lanjut hasil penilaian

· memberikan pertanggung jawaban (accountability)

2. Fungsi Evaluasi

Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan fungsi-fungsi dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

· Remedial

· Umpan balik

· Memotivasi dan membimbing anak

· Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

· Pengembangan ilmu

3. Manfaat Evaluasi

a. Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :

· Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

· Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

· Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

b. Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan sekolah.

Ø Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran bagi siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Ø Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran Bagi Guru

· mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

· ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

· ketepatan metode yang digunakan

Ø Bagi Sekolah

· membuat program sekolah

· hasil belajar cermin kualitas sekolah

· pemenuhan standar

4. Prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:

· Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. patokan : Kurikulum/silabi.

· Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.

· Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.

· Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

C. Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran

Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.

Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing:

· Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.

· Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.

· Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris.

D. Persamaan dan Perbedaan Asesmen dan Evaluasi

Rustaman (2003) mengungkapkan bahwa asesmen lebih ditekankan pada penialain proses. Sementara itu evaluasi lebih ditekankan pada hasil belajar. Apabila dilihat dari keberpihakannya, menurut Stiggins (1993) asesmen labih berpihak pada kepentingan siswa. Siswa dalam hal ini menggunakan hasil asesmen untuk merefleksikan kekuatan, kelemahan, dan perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi menurut Rustaman (2003) lebih berpihak kepada kepentingan evaluator.

Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara evaluasi dengan asesmen. Evaluasi (evaluation) merupakan penilaian program pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi pendidikan lebih bersifat makro, meluas, dan menyeluruh. Evaluasi program menelaah komponen-komponen yang saling berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan. Sementara itu asesmen merupakan penilaian dalam scope yang lebih sempit (lebih mikro) bila dibandingkan dengan evaluasi. Seperti dikemukakan oleh Kumano (2001) asesmen hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan program pembelajaran.

Harlen (1982) mengungkapkan perbedaan antara asesmen dan evaluasi dalam hal metode. Evaluasi dinyatakan menggunakan kriteria dan metode yang bervariasi. Asesmen dalam hal ini hanya merupakan salah satu dari metode yang dipilih untuk evaluasi tersebut. Selain dari itu, subyek untuk asesmen hanya siswa, sementara itu subyek evaluasi lebih luas dan beragam seperti siswa, guru, materi organisasi, dll.

Yulaelawati (2004) menekankan kembali bahwa scope asesmen hanya mencakup kompetensi lulusan dan perbaikan cara belajar siswa. Jadi hubungannya lebih pada peserta didik. Ruang lingkup evaluasi yang lebih luas ditunjukkan dengan cakupannya yang meliputi isi atau substansi, proses pelaksanaan program pendidikan, kompetensi lulusan, pengadaan dan pemingkatan tenaga kependidikan, manajemen pendidikan, sarana dan prasarana, dan pembiayaan.


BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah yang sangat akrab dengan hal evaluasi, khususnya evaluasi hasil belajar. Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran, sedangkan penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu. Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan pada dasarnya evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Dan Assessment biasanya dihubungkan dengan kemampuan seseorang, seperti kecerdasannya, keterampilannya, kecepatanya, ketepatannya, misalnya buku rapor.

Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita harus mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum ataupun khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip evaluasi, serta persamaan dan perbedaannya agar evaluasi hasil belajar yang akan kita laksanakan bisa berjalan dengan baik dan benar. Semuanya itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik masing-masing berupaya mensukseskan tugas utama mereka masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Gabel, D.L. (1993). Handbook of Research on Science Teaching and Learning. New York:Maccmillan Company.

Harlen, W. (1983). Guides to assessment in Edication Science. London:Maccmillan Education.

Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment andPortofolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan:Shizouka University.

Marzano, R.J. et al. (1994). Assessing Student Outcomes: Perfomance Asessment Using the Dimension of Learning Model. Alexandria:Association for Supervison and Curriculum Development.

Popham, W.J. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need it Know. Oxford:Pergamon Press

Resnick, D.P. & Resnick, L.B. (1985). “Standars, Curiiculum, and Performance:A Historical and Comparative Perspektive” Educational Researcher 9, 5-19.

Rustaman, N. (2003). Assessment Pendidikan IPA. Makalah penataran guru-guru NTT di Jurusan Pendidikan Biologi

Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York:Macmillan Colege Publishing Company

Wiggins, G. (1984). “A True Test:Toward More Authentic and Equitable Assessment” Phi Delta Kappan 70, (9) 703-713

Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya Jakarta

http://santriw4n.wordpress.com

http://aderusliana.wordpress.com/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar

Kamis, 23 Desember 2010


Tugas Poster
Tema : Pendidikan
JuduL : PendidikanKu Mahal
OriginaL by : Farri Salsabilla
^_^

Senin, 06 Desember 2010

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia masalah pendidikan memerlukan perhatian yang khusus. Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan nasional. Hal ini ditujukan agar masyarakat Indonesia nantinya siap untuk menghadapi perkembangan dan perubahan secara terus menerus sebagai akumulasi respon terhadap permasalahan yang terjadi selama ini serta pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu teknologi serta seni dan budaya.

Berkaitan dengan hal ini maka dibutuhkan adanya kurikulum. Pemerintah pusat sudah menetapkan standar nasional pendidikan, namun dalam pelaksanaanya perlu diselengarakan dan diadaptasikan dengan kondisi sekolah, masyarakat, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi yang berkembang pesat bersamaan dengan era globalisasi.

B. Rumusan Masalah

Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Pada awalnya komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software-software yang ada. Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran.

C. Tujuan

Melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk Teknologi Informasi dan Komunikasi. Siswa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisi, dan saling tukan informasi secara efisien dan efektif. Secara khusus, tujuan mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah:

1. Menyadarkan sisiwa akan potensi perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang terus beubah sehingga siswa dapat termotivasi untuk mengevaluasi dan mempelajari Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai dasar untuk belajar sepanjang hayat

2. Memotivasi kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga siswa bisa melaksanakan dan menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dan lebih percaya diri

3. Mengembangkan kompetensi siswa dalam menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mendukung kegiatan belajar, bekerja dan berbagai aktifitas dalam kehidupan sehari-hari

4. Mengembangkan kemampuan belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal, menarik, dan mendorong siswa terampil dalam berkomunikasi, terampil mengorganisasi informasi, dan terbiasa bekerjasama.

5. Mengembangkan kemampuan belajar mandiri, berinisiatif, inovatif, kreatif, dan bertanggungjawab dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk pembelajaran, bekerja dan pemecahan masalah sehari-hari

Dengan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi, siswa akan dengan cepat mendapatkan ide dan pengalaman dari berbagai kalangan. Penambahan kemampuan siswa karena penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri, sehingga siswa dapat memutuskan dan mempertimbangkan sendiri kapan dan dimana penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal, termasuk apa implikasinya saat ini dan dimasa yang akan datang.

D. Kajian Teori Pendukung

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, menipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke yang lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu padanan yng tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer atau pemindahan informasi antar media.

Dengan begitu Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat memotivasi kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga siswa bisa melaksanakan dan menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dan lebih percaya diri. Mengembangkan kemampuan belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal, menarik, dan mendorong siswa terampil dalam berkomunikasi, terampil mengorganisir informasi, dan terbiasa bekerjasama.

E. Manfaat

Teknologi informasi dan Komunikasi bukan merupakan teknologi yang berdiri sendiri, tetapi merupakann kombinasi dari hardware dan software. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan Teknologi informasi dan Komunikasi sebagai media pembelajaran yaitu hardware dan software yang tersedia dan jenis metode pembelajaran yang akan digunakan. Beberapa pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran diantaranya :

1. Presentasi

Presentasi merupakan cara yang sudah lama digunakan, dengan mengunakan OHP atau chart. Peralatan yang digunakan sekarang biasanya menggunakan sebuah computer atau laptop dan LCD proyektor. Ada beberapa keuntungan jika kita memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan film, sehingga tampilannya menjadi lebih menarik dan memudahkan siswa untuk menangkap materi yang kita sampaikan. Software yang paling banyak digunakan untuk presentasi adalah Microsoft Powerpoint. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan presentasi, diantaranya :

a. Jangan terlalu banyak tulisan yang harus ditampilkan.

b. Tulisan jangan terlalu kecil karena harus dilihat oleh banyak siswa.

c. Perbanyak memasukkan gambar dan animasi

d. Usahakan bentuk presentasi yang interaktif.

2. Demonstrasi

Demonstrasi biasanya digunakan untuk menampilkan suatu kegiatan di depan kelas, misalnya eksperimen. Kita bisa membuat suatu film cara-cara melakukan suatu kegiatan, misalnya cara melakukan pengukuran dengan micrometer yang benar atau mengambil sebagian kegiatan yang penting. Sehingga dengan cara ini siswa bisa kita arahkan untuk melakukan kegiatan yang benar atau mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.

Cara lain adalah dengan memanfaatkan media internet, kita bisa menampilkan aminasi yang berhubungan dengan materi yang akan kita ajarkan.