Kamis, 14 Juni 2012

Naskah Doku Drama - Si Pitung



             1.      Judul              :  Si PITUNG
             2.      Tujuan           : 1. Agar tidak lupa tentang sejarah – sejarah zaman dahulu
2.      Mengerti makna perjuangan untuk anak – anak kecil dan anak-anak
muda.
             3.      Sasaran          : Untuk masyarakat luas dan anak sekolah
             4.      Durasi            : 20 menit
             5.      Pelaku                       :
·      Ghozaly sbg Narator
·      Maulana sbg Si Pitung
·      Roy sbg Bang Piun
·      Farri sbg Pok Pinah
·      Eko sbg Haji Naipin
         ·         Pedagang  
         ·         Gunawan sbg Berandal
         ·         Iwan sbg Schout
         ·         Tunggal sbg Serdadu


      6.      Sinopsis          :
Suatu hari di kampung Rawabelong, hiduplah sepasang suami istri bernama Bang Piun dan Pok Pinah. Mereka mempunyai seorang anak yang bernama Pitung. Mereka menitipkan anaknya kepada Haji Naipin, Guru ngaji yang terkenal di kampungnya, untuk belajar mengaji dan bela diri. Haji Naipin mempunyai banyak murid. Mereka taat dan patuh pada gurunya. Siang malam mereka belajar mengaji, membaca, menulis huruf Arab, serta berlatih bela diri. Mereka juga menjalankan salat lima waktu.
Pada bulan Ramadhan, mereka menjalankan ibadah puasa. Kehidupan keluarga Bang Piun memang serba terbatas, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, mereka bergantung kepada hasil pertanian yang relatif sedikit. Untuk menambah penghasilan, bang Piun sering berkeliling kampung untuk mencari buah-buah yang tumbuh di kebun tetangga, kemudian ia jual lagi setelah diperam.
Dengan berat hati haji naipin membuka rahasia kekebalan muridnya. Di waktu yang sama si pitung tengah berada di rumah kekasihnya di kotabambu. Lantas pergilah schout dan pasukannya ke sana. Kemudian tamatlah riwayat si pitung. Namun, karena jasa-jasanya bagi rakyat kecil yang pernah ditolongnya, si pitung tetap dikenang sebagai pahlawannya. Akan tetapi bagi orang yang pernah dirugikan, si pitung tetap dianggap sebagai penjahat. Dia sudah sepantasnya mendapatkan ganjaran itu


   7.      Sekuen
Adegan 1  : Ditempat pak haji nipin si pitung sedang berlatih silat dan ngaji.
Adgean 2  : Di rumah si pitung.pitung sedang menanyakan kepada pok pinah.ibunya hari
ini memasak apa dan ibunya menjawab ibu memasak makanan kesukaan si pitung. Dan bang piun menyuruh pitung  menjualkan kambing yang dimiliki mereka ke pasar.
Adegan 3  : disebuah masjid pitung ditanya berandalan,tapi uang pitung hilang dicopet
oleh para berandalan itu. Pitungpun mengejar dan menghajar brandalan itu dan berandalan kalah dan menyerah,,berandalan itu ingin membantu pitung membantu orang-orang. Kemudian pitung dan berandalan itu mencuri dirumah –rumah besar dan hasil mencurinya itu dibagikan kepada masarakat yang kurang mampu.
Adegan 4 :   Disuatu rumah besar,pitung dan berandalan mencuri dirumah itu.ternyata itu
rumah kompeni Schout. Tapi kali ini pitung dan berandalan itu berhasil mencuri dan kabur.  Dan ketika pitung dan berandalan itu beraksi lagi ternyata mereka sudah diintai oleh Schout dan penjaganya yaitu serdadu-serdadunya. Dan akhirnya tarjadilah kejar mengejar dan perkelahian. Tapi sayangnya pitung dan berandalan itu mati tertembak oleh Schout dan serdadu-serdadunya.
  
8.      Naskah
No
PELAKU
URAIAN
1
Musik
OPENING
IN-UP-DOWN-OUT

2
Announcer
Selamat pagi…Ketemu lagi di 109,7 C- FM Radio (Radionya Para Remaja). Apa kabar ni para pendengar semua..?? Tentu baik-baik aja dong…
Pada kesempatan kali ini kita akan mendengarkan sebuah naskah doku drama dengan judul SI PITUNG.
Semoga pendengar semua dapat mengambil pelajaran dari cerita ini yaa…  yuuk kita denger sama-sama…

3
Musik Transisi
Backsound Acara
IN-UP-DOWN-OUT

4

Narator
( Ghozali )
Suatu hari di kampung Rawabelong, hiduplah sepasang suami istri bernama Bang Piun dan Pok Pinah. Mereka mempunyai seorang anak yang bernama Pitung. Mereka menitipkan anaknya kepada Haji Naipin, Guru ngaji yang terkenal di kampungnya, untuk belajar mengaji dan bela diri.

5.
FX
SUARA BURUNG BERKICAU DAN SUARA ORANG SEDANG BERBINCANG-BINCANG LIRIH

6
Pitung
( Maulana )
hiaaaaat! Hiaaaaaat!(zzz)

7
Haji Naipin
( Eko )
Bagus Pitung! Matamu juga harus awas! Nah begitu! Inget, tung, silat ntu Cuma buat ngelindungi diri. Jangan kau buat untuk mencelakakan orang lain!
8
Pitung
( Mulana )
 baik guru! Saya mengerti!                    

9
Haji Nipin
( Eko )
Bagus itu, Tung! Habis ini kita ngaji.

10
Pitung
( Maulana )
baik guru
11
Narator
( Ghozali )
Haji Naipin mempunyai banyak murid. Mereka taat dan patuh pada gurunya. Siang malam mereka belajar mengaji, membaca, menulis huruf Arab, serta berlatih bela diri. Mereka juga menjalankan salat lima waktu. Pada bulan Ramadhan, mereka menjalankan ibadah puasa. Suatu sore ketika pulang mengaji, pitung mengobrol dengan orang tuanya

12
Bang Piun
( Roy )
Kamu senang tinggal di tempat Haji Naipin, Tung?
( menegaskan )

13
Pitung
( Maulana )
Seneng sekali yah, disono banyak temen

14
Bang Piun
( Roy)
kamu udah pinter ngaji ya?

15
Pitung
( Maulana )
dikit-dikit, yah

16
Bang Piun
( Roy )
Syukurlah, Tung. Pokoknya kamu nurut saja sama gurumu itu…
Ayah ikut senang kamu jadi muridnye.
( menyampaikan pesan )

17
Pitung
( Maulana )
Baik yah, aye bakalan jadi murid yang baek.
18
Bang Piun
( Roy )
Ha… ha… ha…, itu baru anakku
( bangga dan senang )
19
Mpok pinah
 ( Farri )
Jangan lupa..!
Kamu harus terima kasih sama gurumu..!
Gurumu itu guru yang baik…
Kalo kamu pergi ngaji lagi, bawain masakan ini buat dia ya.!!
Bilang aja ini oleh-oleh dari ayahmu..!!
Gitu yaa tung..!!

20
Pitung
( Maulana )
Emangnya dulu ayah sama haji naipin temen akrab ya bu..??

21
Pok Pinah
( Farri )
Yaa,,, Bisa dibilang begitu sih…
Mereka ntu temen lama…
Dulu ayahmu juga belajar ilmu yang sama…
Cuman ayahmu luka waktu lagi latihan.

22
Bang Piun
( Roy )
Hm….   ( mencoba mengingat )
 Ayah inget waktu itu. Waktu itu ayah ngelupain kata-kata guru ayah. Katanya ga boleh menggunakan  ilmu itu buat mencelakakan anak kecil,,,
terus anak itu menghindar,,
Nah… kaki ayah kena pohon kelapa di seberang rumah Bang Ijah.

23
Pitung
( Maulana )
Kata-kata guru itu harus diinget kan yah?

24
Bang Piun
( Roy )
Betul itu tung! Jangan sampe lupa itu!
25
FX
SUARA AYAM BERKOKOK DAN BURUNG BERKICAU

26
Narator
( Ghozaly )
Kemudian Keesokan harinya, sehabis salat subuh terjadi obrolan antara pitung dengan Pok pinah di dapur


27
Pitung
( Maulana )
hoaaahmmmm….. ( menguap )
   Hari ini ibu masak apa? Mau Pitung bantuin ga?

28
Pok Pinah
( Farri )
Ibu lagi masak makanan kesukaan mu,..
kalo kamu masih ngantuk,,, tidur aja lagi,..
ga usah bantuin ibu.

29
Pitung
( Maulana )
Bener ibu ga mau dibantuin Pitung?

30
Pok Pinah
 ( Farri )
Udah tidur aja lagi,.
tuh mata kamu masih ngantuk.

31
Pitung
( Maulana )
Ya sudah kalau begitu…

32
Narator
( Ghozaly )
Pok Pinah memang selalu membiarkan Pitung tidur sampai siang bolong di hari libur. Tetapi tidaklah demikian menurut Bang Piun, yang sedang berada di kamar, yang kebetulan mendengar percakapan mereka.

33
Bang Piun
( Roy )
Tung! Jangan tidur lagi, lebih baik kamu gembalakan saja kambing ini ke pinggiran hutan sana. Disana banyak rumput yang masih hijau, kambing-kambing suka itu!, hari ini ayah mau berkeliling kampung mencari buah-buah tetangga untuk dibeli.
( kesal kepada pitung )

34
Pitung
( Maulana )
baik ayah!

35
Pok Pinah
( Farri )
Tung,..
kan kamu sampai sore,..
bawa bekal ini ya..!!!

36
Pitung
( Maulana)
terima kasih ibu!

37
Narator
( Ghozaly )
Kehidupan keluarga Bang Piun memang serba terbatas, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, mereka bergantung kepada hasil pertanian yang relatif sedikit. Untuk menambah penghasilan, bang Piun sering berkeliling kampung untuk mencari buah-buah yang tumbuh di kebun tetangga, kemudian ia jual lagi setelah diperam.
38
FX
IN-UP-DOWN-OUT

39
Narator
( Ghozaly )
Pada suatu hari, bang Piun ingin menjual kambingnya. Sayang, saat itu dia berhalangan. Lalu ia memanggil Si Pitung.

40
Bang Piun
( Iwan )
Tung, bawa dua kambing ini ke tanah abang, jangan dijual kalo harganya masih terlalu murah, jelas Tung?

41
Pitung
( Maulana )
Jelas yah.!!

42
Narator
( Ghozaly )
Lalu si pitung menggiring dua kambingnya ke pasar Tanah Abang. Sesampainya di sana, kambingnya segera dikerumuni pedagang karena gemuk dan sehat.

43
Bang Piun
( Roy )
Ayah percaya kamu pasti bakal untung dan membawa pulang uangnya.  ( menasehati )

44
Pedagang

Dik, saya tawar kambingmu itu seharga 750 ribu boleh..???.
45
Pitung
( Maulana )
Baiklah saya jual.
46
Narator
( Ghozaly )

Dalam waktu singkat si Pitung sudah bisa menghitung uangnya. Ia memutuskan untuk pulang setelah solat dhuhur di mesjid. Di perjalanan pulang, Ia bertemu dengan gerombolan berandalan
47
FX
SUARA RAMAI DAN GEMURUH

48
Berandal
( Gunawan )
Permisi, apakah kamu tahu dimana jalan pengangsaan timur no 56?


49
Pitung
( Maulana )
Ooh, tinggal jalan lurus, kemudian belok kiri di perempatan.

50
Berandal
( Gunawan )
Terima kasih banyak ya dik, maaf mengganggu, maklum, kami baru disini.

51
Pitung
( Gunawan )
Ooh iya tidak apa-apa               

52
Narator
( Ghozaly )
Beberapa saat kemudian pitung menyadari bahwa uangnya sudah tidak ada di saku, kemudian Pitung menyadari bahwa pasti berandalan tadi yang telah mengambil uangnya

53
FX
SUARA DERIT JEMBATAN

54
Pitung
( Maulana )
Hah, kemana uangku? Pasti dicopet sama berandalan tadi.!
Tolong.. tolong.. ada copet…!!!!  ( berteriak )

55
FX
SUARA LANGKAH KAKI BERLARI

56
Narator
( Ghozaly )
Segera Pitung menghampiri berandalan itu, benarlah apa yang diperkirakan Pitung, memang mereka yang mencopet uangnya. Namun, berandalan itu enggan mengakui perbuatan mereka, sehingga adu tinju pun tak terelakkan lagi. Karena sudah biasa dilatih silat, maka berandal itu pun kalah tangkas daripada si Pitung dan menyerah.

57
Berandal
( Gunawan )
Ampun Tung, saya mengaku kalah. Kamu Hebat.  ( ketakutan )
Bagaimana kalau kamu menjadi pimpinan kami saja?
Jadi jagoan pasar lumayan lho..

58
Pitung
( Maulana )
Enak saja, rakyat banayk yang menderita mengapa mereka malah dirampas hartanya? Seharusnya kita melindungi nasib orang banyak..  ( dengan nada marah )

59
Berandal
( Gunawan )
Bagaimana caranya?
Jadikanlah saya pengikutmu, maka kami akan membantu menolong orang yang menderita itu.  ( ketakutan )

60
Pitung
( Maulana )
Baiklah, namun kalian harus berjanji untuk setia padaku.

61
Berandal
( Gunawan )
Iya Tung.. pasti
62
Narator
( Ghozaly )
Pitung mencari akal, gimana bagaimana ya caranya agar dapat membantu menolong orang yang menderita.  Akhirnya ia menemukan suatu cara, memang harus ada korban harta benda, namun ada manfaat di balik semuanya itu. Rakyat yang menderita mendapat bantuan. Baik berupa uang maupun makanan.

63
Pitung
( Maulana )
Baiklah teman,,,
 kita dapat menolong orang-orang dengan cara mencuri dari para tuan tanah dan tauke.,,
kenudian hasilnya kita bagikan kepada teman-teman kita yang miskin,,
ginama teman-teman…????

64
Berandal
( Gunawan )
Siap Tung,, siaap…
65
FX
SUARA ORANG KAGET DAN KETAKUTAN

66
Narartor
( Ghozaly )
Kemudian tetangga yang sangat menderita tiba2 mendapatkan sepikul beras dan uang sekaranya. Demikian pula satu keluarga yang terjerat utang dari tuan tanah, tiba2 mendapatkan santunan.anak miskin mendapatkan kiriman baju dan bingkisan lainnya. Tetapi para tauke dan tuan-tuan tanah bersama centengnya merasa ketakutan

67
FX
SUARA JANGKRIK DAN KATAK

68
Narrator
( Ghozaly )
Pada malam harinya, di daerah jembatan lima terjadi pencurian yang dilakukan oleh pitung dan teman-temannya

69
Pitung
( Maulana )
hari ini kita akan mencuri dari rumah besar ini. Hati2 jangan sampai ketahuan para centeng.  ( memerintah )

70
Berandal
( Gunawan )
Baik tung,, baik…
71
Narator
( Ghozaly )
Aksi pitung dan gerombolannya membuat para polisi dan serdadu kompeni marah besar.

72
Schout
( Iwan )
( Menggebrak meja )
Apa saja yang kalian kerjakan. Kenapa kalian tidak dapat menangkap gerombolan pencuri tersebut?

73
Serdadu
( Tunggal )
mereka beraksi dengan sangat bersih tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

74
Schout
( Roy )
saya tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus dapat menangkap gerombolan tersebut dan jangan pernah kembali sebelum mereka tertangkap!
75
Narator
( Ghozaly )
Pada suatu malam ketika pitung sedang beraksi ternyata gerak geriknya sudah tercium oleh para serdadu.

76
FX
SUARA TEMBAKAN

77
Serdadu
( Tunggal )
sekarang kau tidak bisa lari lagi..!!

78
Narator
( Ghozaly )
Akhirnya si pitung berhasil tertangkap, namun beberapa hari kemudian si pitung berhasil melarikan diri melalui atap.

79
Serdadu
( Tunggal )
si pitung kabur! Si pitung kabur!

80
Schout
( Iwan )
bagaimana bisa begitu,,!?
Cepat temukan dia sekarang..!!!
 aku tidak mau tau…!!!!   ( marah )

81
Serdadu
( Tunggal )
itu dia si pitung..!!!
Dia lari kea rah gerbang belakang….!!!!

82
Schout
(Iwan )
tembak dia,,!!
Tembak dia sekarang..!!!!
83
FX
SUARA TEMBAKAN

84
Narator
( Ghozaly )
Namun semua tembakan tidak berhasil melumpuhkan pitung. Kemudian schout pun berpikir.

85
Schout
( Iwan )
Hmmm…  ( berfikir )
bagaimana mungkin peluruku tidak melukainya. Apakah mungkin pitung kebal terhadap peluru itu ya..???

86
Narator
( Ghozaly )
Akhirnya si pitung berhasil melarikan diri dari serdadu kompeni. beberapa hari kemudian. schout bersama serdadu memasuki kampung rawabelong untuk mencari keberadaan si pitung.

87
Schout
( Iwan )
Ayooo…!!!
cepat kumpulkan para lelaki di kampung ini..!!

88
Serdadu
( Tunggal )
Baik tuan,, baik tuan,,,,
89
Narator
( Ghozaly )
Dan akhirnya pok pinah, bang piun dan haji naipin ditangkap karena mempunyai hubungan keluarga dengan si pitung.

90
Schout
( Iwan)
Heii,,,!!!
cepat katakan! Mengapa si pitung kebal terhadap peluru saya,,
aku tidak mau tau.. pokoknya cepat katakan…!!!!

91
Haji naipin
(Eko )
 (dengan gugup)
 a..k..u tidak tau tuan…
a..k..u tidak tau tuan…  ( ketakutan )

92
Schout
( Iwan)
jangan berbohong! Atau kau ingin peluru ini menembus kepalamu.. hah..!!!

93
Narator
( Ghozaly )
Dengan berat hati haji naipin membuka rahasia kekebalan muridnya. Di waktu yang sama si pitung tengah berada di rumah kekasihnya di kotabambu. Lantas pergilah schout dan pasukannya ke sana.

94
Schout
( Iwan )
Heii….!!!
pitung cepat keluar.!!
Rumah ini sudah dikepung oleh pasukan ku..
Ayoo,,, Menyerahlah kau...!!!  ( marah )
95
Narator
( Ghozaly )
Kemudian terjadilah pertempuran antara schout melawan si pitung. Tetapi musuh terlalu kuat sehingga hanya pitung yang dapat bertahan.

96
Schout
( Iwan )
cepat lemparkan telur busuk itu..!!
97
Serdadu
( Tunggal )
Baik tuan,, baik…
98
Schout
( Roy )
sekarang. Tembak..!! 
segera..!!!

99
FX
SUARA TEMBAKAN

100
Narator
( Ghozaly )
Kemudian tamatlah riwayat si pitung. Namun, karena jasa-jasanya bagi rakyat kecil yang pernah ditolongnya, si pitung tetap dikenang sebagai pahlawannya. Akan tetapi bagi orang yang pernah dirugikan, si pitung tetap dianggap sebagai penjahat. Dia sudah sepantasnya mendapatkan ganjaran itu

101
Musik Transisi
Backsound Acara
IN-UP-DOWN-OUT

102
Announcer
Waahh,,, menarik juga yaa kisahnya….
semoga itu tadi bisa menambah wawasan kita mengenai legenda-legenda di Indonesia yaa…  Sekian dulu untuk kali ini,, kita ketemu lagi minggu depan dengan kisah-kisah yang lain,, yang lebih menarik.. tentuya di 109,7 C- FM Radio (Radionya Para Remaja)
SEE YOU…and BYE…BYE…             

103
Musik
CLOSING
IN-UP-DOWN-OUT


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar